Logo
Seminar Pendidikan Inklusif
Rabu, 16 September 2026 27x Dilihat Admin

Seminar Pendidikan Inklusif

BARABAI — Dinas Pendidikan Kabupaten Hulu Sungai Tengah menggelar Seminar Pendidikan bertajuk "Kesiapan Psikologis Guru dalam Menangani Anak Berkebutuhan Khusus (ABK)". Kegiatan ini menjadi langkah konkret pemerintah daerah dalam merespons dinamika dan tantangan penyelenggaraan pendidikan inklusif yang kian kompleks di satuan pendidikan.

Seminar ini menghadirkan praktisi pendidikan inklusif dan psikolog, Hj. Ceria Hermina, M.Psi., Psikolog, sebagai narasumber utama. Sebanyak 162 peserta yang terdiri dari perwakilan tenaga pendidik dan kependidikan jenjang TK, SD, serta SMP, baik negeri maupun swasta di lingkungan Disdik Kabupaten Hulu Sungai Tengah, mengikuti jalannya kegiatan dengan antusias.

Fokus utama pelatihan ini menitikberatkan pada pembekalan ketahanan mental, kepekaan emosional, serta kesiapan psikologis para pendidik. Melalui materi yang disampaikan, para guru diarahkan agar mampu menjalankan pendampingan bagi murid berkebutuhan khusus secara optimal, bermakna, dan berkesinambungan. Tidak hanya teknik menghadapi peserta didik, narasumber juga membekali guru dengan strategi manajemen stres (stress management) guna mencegah kelelahan emosional (burnout) dalam pengabdian jangka panjang.

Dalam paparannya, Hj. Ceria Hermina menegaskan bahwa pondasi utama pendidikan inklusif bermula dari suasana kelas yang aman secara psikologis.

"Kesiapan psikologis seorang guru akan memancarkan rasa aman bagi anak-anak berkebutuhan khusus. Ketika rasa aman itu terbangun, proses belajar dapat berjalan tanpa ketakutan maupun tekanan," jelasnya di hadapan para peserta.

Antusiasme peserta tampak hidup sepanjang sesi tanya jawab dan konsultasi interaktif. Para guru memanfaatkan momentum tersebut untuk berdiskusi langsung mengenai kendala emosional serta dinamika riil yang kerap mereka jumpai di ruang kelas.

Rangkaian acara ditutup dengan sesi refleksi mendalam bersama seluruh peserta. Melalui seminar ini, para pendidik diharapkan tidak sekadar menguasai pemahaman psikologi praktis, melainkan juga menumbuhkan rasa percaya diri dan daya lentur yang kuat demi terwujudnya ekosistem sekolah yang ramah, berempati, serta merangkul seluruh potensi anak tanpa terkecuali.

Bagikan Berita: